Ibarat Bergenggaman Tangan

  Minggu sore (lupa tanggal, saat Bulan Ramadhan), kami menonton acara Tafsir Al-Misbah (yang nampaknya siaran ulang). Ada beberapa hal yang menarik perhatian kami. Salah satunya adalah bahasan beliau mengenai umroh dan haji. Beliau berkata tidak ada larangan untuk umroh atau haji berkali-kali, tapi diutamakan haji dan umroh sekali, dan kelebihan rezekinya digunakan untuk membantu sesama, lebih bagus lagi kalau bisa haji-umroh berkali dan membantu sesama secara berkelanjutan. Dalam hati kami,

“Yup, berarti sebagai Muslim penting untuk menjadi kaya, yang kayanya mencukupkan orang lain.”

Nah, yang paling mendapat perhatian kami adalah perkataan ini. Manis sekali kata-kata Al-Quran dan hadits yang diutarakan melalui lidah Pa Quraish Sihab mengenai anjuran untuk memberi.

Memberi/bersedekah itu ibarat bergenggaman tangan.

  Saat memberi, kita pun menerima. Saat Tangan di atas, tangan kita pun menengadah mendapat permberian dari yang Di Atas. Nikmat memberi bisa saja, lebih nikmat dibanding saat kita menerima. Bahkan prospek timbal balik dari Allah pun menjanjikan. Banyak cerita,kisah, pengalaman mengenai ajaibnya sedekah, kisah masa lalu, pengalaman masa kini. Kisah M. Assad ,yang mendapat beasiswa, rezeki bisnis, hingga tiket menonton pertandingan tim impiannya, karena mensedekahkan sebagian uangnya . Kisah-kisah yang dicertakan Yusuf Mansyur. Dan masih banyak lagi
Kurang terasa hikmahnya kalau tidak teralami sendiri atau teralami oleh kerabat dekat, itu nampaknya sudah jadi kebiasaan kita.

Juni, 2012 – Kami punya sebuah rumah kontrakan, yang dikontrakan ke sebuah keluarga. Sayangnya rumah kami itu, tidak dirawat selayaknya sebuah tempat tinggal. Selain itu, karena kondisi ekonomi mereka, sulit untuk melunasi biaya kontrak mereka. Pada saat tenggat sewa sudah habis, dan mereka tidak berencana memperpanjang sewa, tapi mereka masih menyisakan hutang sewa. Kami mengambil cara yang tidak umum. Rumah yang kami sewakan mungkin memang menjadi rumah yang buta dari rasa nyaman., semoga tidak menjadikan kami buta hati pula. Melihat kondisi ekonomi penyewa, kami mengikhlaskan hutang yang ada, keputusan yang menjadi diskusi bersama keluarga. Maklumlah, saat itu kondisi keuangan kami pun tidak dalam kondisi aman, tapi tidak seburuk penyewa. Waktu itu kami mencoba menjelaskan alasan, yg berasal dari hadits yang pernah kami baca dari kisah lama.

  Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah R.A., berkata :
“ Abu Qatadah mencari seorang yang berhutang kepadanya dan menghilang, kemudian orang itu bertemu.
Dia berkata pada Abu Qatadah, “ Aku sedang dalam kesulitan.”
Maka kata Abu Qatadah,
“Demi Allah! Demi Allah! Aku mendengar”
Rasulallah SAW bersabda :
”Siapa yang ingin dibebaskan Allah dari kesulitan pada hari kiamat, maka hendaklah dia memberi kelapangan bagi orang-orang yang dalam kesulitan atau membebaskannya dari hutang.”
(H.R. MUSLIM)

  Kami tidak persis menjelaskan seperti di atas sih..hehe. Tapi intinya ada manfaat yang bisa kita terima, dan masa Rasulallah SAW bohong, kan gak mungkin..hehe (persuafif bukan persuasif). Alhamdulillah keluarga menerima dan mengikhlaskan. Problem sementara terselesaikan, dan meninggalkan problem lain. Pertama pelajaran, mencari penyewa rumah yang bertanggung jawab dan memang benar mampu menyewa. Kedua, Rumah kontrak kami itu, agak “sesuatu”..simple nya ,berantakan, kotor, dan tak layak tinggal. Lantai kotor, tembok banyak bekas bocoran, kamar mandi no comment, berjamur. Yang terpikirkan pada saat itu adalah ,” wah agak sulit nih dapat penyewa baru.”

   Dan ternyata tidak perlu menunggu lama, di hari yang sama, datang suami istri yang ternyata salah satu teman Almarhum Ayah. Beliau2 sedang mencari kontrakan baru mengganti kontrakan mereka yang akan habis akhir bulan. Pada saat beliau mencari rumah di komplek rumah kontrakan kami, beliau2 melihat penyewa lama yang “pindahan” dari rumah kontrakan kami. Mendengar cerita mereka, dan mendengar pula cerita teman Alm.ayah yang lain, tamu kita ini dapat dipercaya dan secara ekonomi mampu.

  Tamu kami pun mengutarakan niatnya mengontrak, dan mengetahui keadaan/kerusakan rumah kami. Bahkan mereka bersedia memperbaiki kerusakan rumah. Sang suami adalah pemilik bengkel/usaha penyedia pagar,dan furniture rumah. Yah intinya, memperbaiki rumah mah mudah bagi beliau. Subhanallah, bukan hanya dapat penyewa baru, tapi sekaligus diperbaiki oleh si penyewa.
Itu nikmat feedback yang langsung terlihat, belum potensi feedback di masa depan.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang “itung-itungan” dengan Sang Pencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s